Sabtu, 12 Mei 2012

Human error Penyebab terbesar Kecelakaan Pesawat Terbang (@DokterAri)

Human error Penyebab terbesar Kecelakaan Pesawat Terbang

 

Saya mengikuti terus perkembangan pemberitaan seputar kecelakaan Sukhoi Superjet 100. Kecelakaan ini bukan saja melibatkan 2 bangsa besar Indonesia dan Rusia tetapi kecelakaan ini sudah menjadi perhatian dunia. Keterlibatan Indonesia karena lokasi jatuhnya pesawat di Gunung Salak Jawa Barat, sebagian besar yang menjadi korban warga negara Indonesia dan Pesawat ini terbang dalam rangka promosi pesawat kepada pembeli potensial di Indonesia. Rusia terlibat karena pesawat baru ini adalah pesawat Sukhoi Superjet 100 pesawat Superjet , pesawat yang menjadi kebanggaan bangsa Rusia. Selain sebagian korban juga warga negara Rusia. Kedua pemimpin bangsa Presiden Indonesia dan Presiden Rusia sudah saling kontak membicarakan jatuhnya pesawat tersebut. Sidang kabinet pada masing negara-negara segera berlangsung membicarakan jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 ini.

Berbagai analisa telah disampaikan baik oleh pilot senior, mantan pilot serta pakar penerbangan, bahkan Wakil Presiden Rusia  menduga bahwa Human error sebagai penyebab kecelakaan pesawat ini. Penyelidikan untuk mengetahui penyebab kecelakaan terus dilakukan dan akan memakan waktu yang panjang sampai disimpulkan penyebab utama dari jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 ini.

Kejadian ini telah memaksa saya melakukan studi kepustakaan untuk mengetahui kenapa pesawat bisa jatuh. Di Amerika sendiri angka kecelakaan pesawat terjadi sejumlah 33 kasus per 10 juta penerbangan dalam kurun 20 tahun terakhir. Berbagai penelitian  yang dilakukan menyimpulkan bahwa rata-rata   70 % kecelakaan pesawat terjadi karena "human error". Adapun faktor "human error" terjadi pada 38 % perusahaaan penerbangan besar, 74 % penerbangan komersial dan 85 % penerbangan umum. Kesalahan utama pilot terjadi karena keputusan yang tidak tepat, kurang perhatian dan kesalahan dalam pengendalian pesawat. Ketiga hal ini menjadi faktor utama kesalahan manusia tersebut. Salah satu keputusan yang tidak tepat yang sering dilakukan oleh seorang pilot adalah terbang terlalu rendah.

Berbagai analisa pilot  senior dan pakar penerbangan Indonesia mengenai kecelakaan Sukhoi Superjet 100 menyebutkan bahwa pilot telah menurunkan pesawatnya terlalu rendah sehingga menabrak tebing Gunung Salak.  Disisi lain pakar Sukhoi Superjet juga sudah melakukan simulasi pesawat bahwa pada kondisi pesawat yang membahayakan pasti berbagai alarm baik dengan suara maupun lampu akan memperingatkan pilot akan bahaya yang mengancam. Pertanyaan berikutnya apakah pilot kurang mengindahkan peringatan tersebut? Pilot terlalu lelah sehingga kurang berkonsentrasi? Sekali lagi kita harus menunggu kesimpulan akhir kenapa pesawat ini jatuh.

Saya sendiri kebetulan mempunyai "jam terbang" yang tinggi. Hampir setiap minggu saya harus terbang keberbagai kota di seluruh Indonesia untuk kepentingan pendidikan.  Bahkan 2 minggu yang lalu saya baru pulang dari New Orleans yang menyebabkan saya harus berada dalam perjalanan naik turun pesawat sebanyak 5 kali dengan total perjalanan 30 jam. Setelah perjalanan panjang tersebut saya merasa masih tidak merasa nyaman 2 hari setelah melakukan perjalanan panjang atau saya mengalami jet lag. Wajar jet lag terjadi karena perbedaan waktu antara Jakarta dan New Orleans 12 jam.

 

Penerbangan sukhoi di Indonesia tersebut merupakan penerbangan promosi. Pesawat ini terbang dari satu negara ke negara lain. Para crew pesawat termasuk pilot telah melakukan perjalanan yang panjang karena Jakarta adalah bukan kota pertama yang dikunjungi karena perjalanan Sukhoi ini telah melalui beberapa kota di berbagai negara antara lain Myanmar, Pakistan, dan Kazakhstan. Mendaratnya pesawat ini diberbagai kota sebelumnya juga dalam rangka promosi. Saya coba menghubungi  teman sejawat saya seorang Doktor dan ahli Bedah Syaraf dan juga Flight Surgeon yang menyatakan kemungkinan human error  sebagai penyebab kecelakaan Sukhoi ini. Pilot kemungkinan mengalami spatial disorientation atau disorientasi ruang dan ini bisa berhubungan dengan jet lag. Jet lag terjadi karena jam biologis kita berubah setelah melakukan perjalanan panjang dengan menembus berbagai zona waktu yang berubah. Jet lag akan mengganggu performa fisik dan psikis kita akibat berubahan jam bilogis yang mendadak tersebut. Jet lag membuat kita merasa lemas, disorientasi, kurang konsentrasi dan tidak bersemangat. Jet lag akan diperberat jika seorang kurang tidur dan kurang minum. Apalagi kita ketahui bahwa cuaca Jakarta saat ini sedang panas oleh karena harus tetap banyak minum menkonsumsi air  baik sebelum terbang dan tetap menjaga minum selama perjalanan diatas pesawat. Kitapun diminta menghindari minum alcohol sebelum dan selama penerbangan untuk menhindari Jetlag. Pesawat Sukhoi datang ke Jakarta dalam rangka promosi, kita bisa mempredeksi bahwa pilot dan crew akan berinteraksi dengan banyak orang karena pasti banyak orang akan bertanya akan kehebatan Sukhoi Superjet ini. Hal ini juga bisa menyebabkan pilot tersebut kurang istirahat atau mengalami kelelahan.

Kita semua pasti penasaran kenapa pesawat ini menabrak gunung Salak, berbagai kemungkinan bisa terjadi. Proses evakuasi korban masih terus berlagsung, duka keluarga yang anggota keluarga menjadi korban adalah duka kita semua. Berharap tentu kejadian ini tidak akan terulang lagi. Kita harus selalu  mengambil hikmah atas apa yang terjadi.

Salam sehat,

Ari F Syam

Praktisi klinis


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar